Red Lights

Kamis, 07-03-2013 03:07

Menelusuri 'Kawasan Merah' Kalimalang


Aditya Kendri

ist

ist

TERKAIT

PESATNEWS - Berbatasan langsung dengan Jakarta tak membuat Bekasi begitu ‘terpengaruh’ kehidupan hedonis. Boleh jadi karena Bekasi  berbatasan dengan Jakarta Timur yang notabene bukan tempat yang baik untuk bisnis hiburan. Namun geliat esek-esek di kawasan tersebut kian ‘bergairah ‘.

Menelusuri Jalan Raya Kalimalang dari Jakarta menuju Bekasi tak begitu terasa perbedaan. Tak ada simbol atau tanda yang menyatakan bahwa kita telah keluar dari wilayah Jakarta dan masuk wilayah Bekasi. Tidak ada tapal batas ataupun gapura sebagaimana layaknya sebuah perbatasan suatu propinsi ataupun kota.

Hanya saja kondisi itu, berbanding terbalik dengan geliat panti pijat di sepanjang kawasan Kalimalang, tepatnya di kawasan Caman, Bekasi. Memasuki batas kota maka akan dengan mudah menemukan deretan panti pijat di kawasan itu. Diantara sekian banyak, sepertinya Panti Pijat NB menarik ditelusuri, karena letaknya yang tidak jauh dari batas kota dan paling ramai diantara yang lain. “Disini aman, kok. Ada Mami di depan,” terang seorang tukang parkir memberi garansi.

Istilah Mami yang dimaksud ternyata seorang perempuanparuh baya. Dia langsung menyambut setiap tamu yang datang dengan ramah. Sambil menceritakan tentang panti pijat dan para ‘terapis’, sang Mami menyodorkan air mineral yang diambil dari dalam dus.

 “Silakan diminum. Santai saja dulu,lihat-lihat foto anak-anak. Kalau pun nggak jadi, nggak apa-apa,” katanya sambil melempar senyum.

Sang Mami lalu bercerita kalau tamu-tamunya terdiri dari berbagai kalangan dan usia. Meski tempat parkirnya kecil, cukup banyak juga yang datang menggunakan mobil atau motor.  “Tapi kalau tempat kita yang di Bekasi Barat parkirannya cukup luas,” promo sang Mami.

Ternyata panti pijat NB ini merupakan cabang dari tempat lain. Menurut sang Mami, panti pijat lain miliknya, ber ukuran lebih besar dengan jumlah ‘terapis’ lebih banyak. Di sana tak hanya layanan pijat yang disediakan, salon dan permainan bilyar pun ada. “Nggak jauh dari lapangan olahraga. Tinggal belok kiri, sudah sampai,” tutur Sang Mami.

Panti pijat NB memiliki empat bilik dengan fasilitas tempat tidur yang agak tinggi. Dengan demikian, saat memberikan layanan pijat, terapis berdiri di sisi tempat tidur. Antara bilik yang satu dengan bilik lainnya hanya dibatasi triplek,cukup riskan untuk melakukan aktifitas di luar pijat. Namun siapa sangka tawaran untuk ‘aktifitas lain’ itu justru datang dari para terapis.

“Kalau mau minta servis lain bisa kok, mas. Tapi tarifnya lain lagi,” kata salah satu terapis di tempat itu. Namun saat ditanya berapa tarifnya, sang terapis tak langsung menyebut angka, ”Standarlah untuk begituan,” katanya membuat penasaran.

Cara ini adalah trik mereka dalam menjalankan bisnis, khususnya ketika tamu menanyakan harga. Biasanya ini dialami tamu-tamuyang baru pertama kali ke sini. Bagi tamu yang sudah biasa atau pernah ke sana,penentuan harga tak memakan waktu lama.

Mami Minta Komisi

Selain panti pijat, pecinta hiburan di kawasan ini ternyata juga ditawari ‘menu’ lain untuk bersenang-senang. Beberapa tempat karaoke dapat menjadi pilihan. Hanya saja, tempat-tempat ini baru beroperasi mulai pukul 19.00 hingga dinihari.

Rata-rata ruangan untuk berkaraoke di tempat itu tidak begitu banyak, tak sampai 10 kamar. Ukurannyapun tak terlalu besar, cukup untuk menampung 10 orang sekaligus. Interiornya tidak begitu mewah namun tidak pula jelek.

Bermacam minuman keras juga dijual di tempat ini. Selain itu yang menjadi daya tarik utama tentu saja kehadiran wanita-wanita pemandu karaoke yang sejatinya menjadi menu pokok di tempat itu. Sebenarnya tidak sulit jika seandainya tamu karaoke menginginkan jasa wanita pemandu ini untuk menemani ‘tidur’. Hanya saja karena mereka tidak terang-terangan menjajakan diri, maka perlu pendekatan terlebih dahulu.

“Memang perlu sedikit trik. Tapi biasanya kalau booking ruangan karaoke plus memakai jasa wanita pemandu, mereka akan menawarkan diri kok di dalam,” ungkap seorang sumber pesatnews yang sering berkunjung ke tempat itu.

Rupanya omongan sang sumber terbukti, satu jam lebih berkaraoke, salah seorang wanita pemandu, sebut saja namanya Juwita,  yang menemani malam itu tiba-tiba berbisik. Dengan nada lembut ia menawari untuk memberikan layanan ekstra.

Hanya saja untuk menikmati ‘servis’ Juwita, harus merogoh kocek sebesar Rp 300 ribu, itupun untuk layanan shortime. Namun jika ingin ditemani hingga pagi, maka wanita yang mengaku berasal dari Kuningan, Jawa Barat itu meminta bayaran hingga Rp.500 ribu.

Juwita juga memberitahu jika di tempatnya juga ada induk semang para wanita pemandu karaoke yang biasa disebut Mami. Jika salah satu anak buahnya ada yang diajak keluar oleh tamu, maka tak segan-segan sang Mami akan meminta komisi dari anak asuhnya. 

“Kalau setuju, nanti kita janjian di hotel saja. Jangan berangkat bareng dari sini. Karena biasanya kalau ketahuan keluar bareng tamu pasti aku kena komisi buat mami,” seloroh Juwita. []

 



Editor : Fuad R

  

KOMENTAR



KOMENTAR ANDA

Mohon memasukkan nama, email dan komentar anda apabila ingin memberikan komentar. Kami tidak bertanggung jawab atas segala isi dari komentar yang anda kirimkan.



Kontak KamiTentang KamiLowongan Pedoman Media Siber
Copyright © 2014 www.pesatnews.com