Profil Usaha

Kamis, 07-03-2013 07:06

Brownies Singkong Beromzet Rp 50 Juta Sebulan


Mita Diantina

ist

ist

TERKAIT

PESATNEWS - Meski tidak memiliki latar belakang tata boga, Sigit dan ketiga teman kuliahnya sukses memperkenalkan brownies berbahan tepung singkong kepada masyarakat luas. Berbekal modifikasi dan ujicoba, Brownies Singkong menjadi salah satu penganan yang disukai banyak orang dengan penjualan mencapai 1.600 kotak Brownies Singkong dan mendatangkan omset Rp 50 juta per bulan.

Ingin bisa mendapatkan uang saku tambahan, Sigit dan ketiga temannya yang saat itu berstatus sebagai mahasiswa tertarik untuk menggeluti dunia wirausaha pada tahun 2005 dengan mengusung brownies sebagai produk utamanya.

Ketika itu, brownies buatan Sigit dkk. masih berbahan terigu. Namun karena ingin menciptakan produk inovatif dengan brownies yang berbeda dari yang sudah ada di pasaran, Sigit dan teman–temannya memakai talas dan ubi sebagai pengganti terigu.

Saat ingin memproduksi brownies berbahan talas dan ubi secara massal, mereka terkendala sulit mendapatkan bahan baku. Kemudian mereka beralih menggunakan tepung singkong yang harganya lebih murah dan mudah didapat. Untuk resep, mereka mengaku mendapatkan dari internet dengan modifikasi dan uji coba.

Hanya berselang setahun, ketiga teman Sigit yang telah mendapatkan predikat sarjana memutuskan untuk mengundurkan diri dengan alasan bekerja. Sigit tetap bertahan dengan menangani usaha ini sendiri selama 1,5 tahun. Awal Maret 2011 ia telah kembali berpartner dengan seorang temannya. Brand bernama Mr. BrownCo baru resmi berdiri pada Februari 2008.

Produk

Macam–macam brownies berbahan tepung singkong Mr. BrownCo terdiri dari Brownies Kukus dengan varian Brownies Kukus Original, Brownies Kukus Cocopandan, Cheese Roll Brownies, Brosniew Kukus Keju, dan Brownies Kukus Tape yang dibanderol dengan harga Rp 27 ribu per kotak. Selain Brownies Kukus, Mr. BrownCo juga memproduksi Brownies Panggang yang terdiri dari Brownies Panggang Original yang dijual Rp 25 ribu per kotak, Brownies Panggang Keju Rp 40 ribu per kotak, dan Brownies Kering Rp 25 ribu per kotak. “Dari berbagai varian brownies tersebut, yang paling diminati ialah Brownies Panggang Original,” terang Sigit.

Masing–masing varian brownies memiliki daya tahan yang berbeda–beda tergantung dari cara pembuatannya yang dihitung dari tanggal produksi. Ketahanan Brownies Kukus hanya satu minggu, Brownies Panggang bisa tahan selama tiga minggu, dan Brownies Kering bisa awet hingga tiga bulan.

 Di outlet-nya yang terletak di pinggir jalan raya, hanya tersedia Brownies Kukus Original dan Brownies Panggang Original, sedangkan brownies varian lain baru akan diproduksi jika ada pesanan dan waktu pesanan dilakukan satu hari sebelumnya.

Lokasi outlet yang terletak di dekat kampus IPB Dramaga membuat brownies miliknya laris diminati kalangan mahasiswa, pegawai IPB, dan umum. Sigit mengatakan pembelian cenderung meningkat paada hari Jumat karena banyak mahasiswa yang berasal dari luar kota membeli Brownies Singkong sebagai buah tangan untuk keluarga mereka.

Bahan Baku

 Tepung singkong menjadi bahan baku utama yang digunakan Sigit. Penggunaan tepung ini pada awalnya hanya untuk membedakan produk miliknya dengan produk brownies lain yang telah lebih dahulu ada di pasaran. Selain untuk membedakan, penggunaan tepung singkong dapat menekan biaya produksi karena harganya lebih murah dibandingkan terigu.

“Saya dapat info dari internet, keunggulan lain dari Brownies Singkong ialah daya tahan lebih lama dan tekstur produk lebih padat daripada brownies berbahan terigu”, jelas Sigit. Dari hasil bertanya pada konsumennya, ternyata rasa Brownies Singkong buatannya tidak jauh berbeda dengan Brownies berbahan terigu.

Meskipun bernama Brownies Singkong, Sigit masih menggunakan terigu sebagai campurannya namun dengan perbandingan yang berbeda untuk masing–masing jenis. “Untuk Brownies Kukus perbandingan tepung singkong dan terigu ialah 4 : 1, sedangkan untuk Brownies Panggang 1: 1,” terangnya. Untuk bisa mendapatkan pasokan tepung singkong yang kontinu, Sigit bekerja sama dengan dua supplier, yaitu Balai Besar Pasca Panen Bogor yang terletak di Jalan Tentara Pelajar dan UKM yang bergerak di bidang pembuatan tepung singkong yang lokasinya berada di Cibinong.

Alasannya, saat ini tepung singkong belum banyak di pasaran. Selain tepung singkong, bahan–bahan seperti cokelat bubuk, margarine, dark chocolate, telur, baking powder, keju, selai, plastik, dan kemasan boks juga dibeli dari beberrapa supplier. Sedangkan untuk topping berupa kacang, kismis, chocochips, dan cherry dibeli Sigit secara eceran baik di Pasar Anyar maupun swalayan terdekat. Dalam sebulan, pengeluaran untuk membeli bahan baku sebesar Rp 26,5 juta.

Proses Pembuatan

Menurut Sigit, proses pembuatan brownies berbahan tepung singkong tidak berbeda dengan brownies pada umumnya. “Yang membedakan hanya bahan baku saja kok,” kata Sigit. Alat–alat yang digunakan untuk membuat Brownies Singkong ialah baskom atau wadah plastik sebagai tempat untuk membuat adonan, mixier, oiven, dan sendok pengaduk. Sedangkan bahan–bahannya meliputi margarine, cokelat bubuk, dark chocolate, baking powder, telur, gula pasir, tepung singkong, terigu protein tinggi, dan pengembang.

Langkah awal membuat Brownies Kukus ialah mencairkan margarine dan dark chocolate, sisihkan. Lalu ayak tepung singkong, terigu, cokelat bubuk, dan baking powder, sisihkan. Selanjutnya, kocok pengembang, telur, dan gula pasir, masukkan campuran tepung yang telah diayak. Tambahkan margarine dan dark chocolate, aduk rata. Adonan dituangkan ke dalam loyang dan dikukus selama 30 menit atau hingga matang.

Untuk mendapatkan Brownies Kukus secara maksimal, Sigit menyarankan untuk memanaskan dandang/kukusan sampai benar–benar mendidih dan mengeluarkan uap sebelum mengukus brownies. “Meskipun sepele, jika dandang tidak benar–benar mendidih akan menyebabkan brownies gagal”, kata pria angkatan 41 IPB ini. Selain itu, alasi penutup dandang dengan serbet yang ditalikan pada kenop panci agar uap air tidak menetes.

“Kalau brownies terkena tetesan uap air, hasilnya tidak akan mengembang dengan sempurna,” lanjutnya. Sedangkan untuk Brownies Panggang, hampir tidak ada faktor kegagalan, jika takaran resep pas dan cara pembuatan benar.

Setiap hari, dapur Mr. BrownCo mampu memproduksi 48 loyang brownies Panggang Original, 32 loyang Brownies Kukus Original, 30 pak Brownies Kerring, 100 cup Cup Brownies, dan 50 loyang Roll Brownies. Sedangkan volume penjualan masing–masing produk adalah 1.600 cup Cup Brownies, 888 slice Roll Brownies, 757 kotak Brownies Panggang Original, 612 kotak Brownies Kukus Original, 56 pak Brownies Kering, 31 buah Roll Brownies, 3 slice Cheese Roll, 16 kotak Brownies Panggang Keju, 21 Kotak Brownies Kukus Keju, 40 kotak Brownies Kukusu Cocopandan, 26 kotak Brownies Kukus Tape, dan 12 kotak Brownies Kukus Pisang.

Karyawan

Untuk mendukung kegiatan operasionalnya, Sigit dibantu total 8 orang karyawan. Di outlet-nya yang terletak di Jalan Raya Dramaga, dibantu 2 orang yang bertugas melayani pembeli. Outlet sendiri buka mulai dari pukul 7 pagi sampai pukul 10 malam. Pembagian tugas di outlet terbagi menjadi dua shift, dengan shift pertama pukul 07.00 sampai 16.00, dan pukul 16.00 hingga 22.00. Sedangkan di dapurnya yang bertempat di Cibanteng, proses produksi dikerjakan oleh 2 orang koki dan 4 orang asisten.

Agar bisa membantu perekonomian masyarakat sekitar kampus, Sigit mempekerjakan karyawan yang bertempat tinggal tidak jauh dari IPB Dramaga dengan pendidikan minimal lulusan SMU. Semua karyawan diberlakukan sistem 6 hari kerja dan 1 hari libur. Sigit memberikan upah Rp 22.500/hari untuk karyawan yang baru bekerja 6 bulan dan Rp 25.000/hari untuk karyawan yang telah bekerja lebih dari 6 bulan.

Pemasaran. Meski saat ini Sigit telah memiliki outlet, namun pada awalnya ia rajin berpromosi dengan berpartisipasi pada bazar dan pameran yang diadakan di kampus IPB maupun tempat lain. Sigit juga berjualan di kelas saat masih aktif menjadi mahasiswa. Kadang juga ia mendekati tim pencari dana usaha mahasiswa kampus agar bisa mempromosikan brownies–nya.

“Saat belum punya toko, saya lakuin apa saja supaya orang mengenal brownies saya,” terangnya. Merasa tidak bisa selamanya berjualan tanpa toko, Sigit pun mulai menyewa kios di sekitar kampus. Total ia telah 3 kali berpindah tempat, dengan alasan ingin mendapatkan tempat yang sesuai, cocok, dan nyaman bagi pelanggannya. Sampai saat ini Sigit mengaku masih rajin mengikuti bazar dan pameran, serta berpromosi di media online seperti Facebook.

Meskipun belum memiliki toko cabang di kota manapun, namun wilayah pemasaran telah mencapai Bogor, Jakarta, Indramayu, dan Cirebon. Untuk Bogor dan Jakarta, Sigit memberlakukan sistem delivery order dengan pembelian minimal 300 ribu untuk pembeli dari Jakarta dan Rp 100 ribu untuk pembeli dari Bogor dengan ongkos dianggung pembeli. Khusus untuk Indramayu dan Cirebon, Sigit hanya menyuplai Brownies Kering. “Karena Brownies Kering paling lama awetnya”, kata Sigit.

Kendala dan Prospek

Saat awal mendirikan usaha brownies berbahan tepung singkong, Sigit mengaku mengalami kesulitan dalam memperkenalkan brownies buatannya. Agar masyarakat tahu produknya, Sigit tidak segan–segan menyediakan sampel, baik saat bazar maupun pameran. “Tujuannya supaya oang bisa mencicipi dan mereka tahu ada produk brownies berbahan tepung singkong”, jawab lulusan Teknik Pertanian IPB ini. Cara tersebut akhirnya berhasil, terbukti saat ini outlet-nya tidak pernah sepi pengunjung.

Menurut Sigit, usaha yang berkaitan dengan kuliner bisa dibilang memiliki prospek usaha yang baik, terutama produk kuliner tersebut belum banyak diproduksi oleh orang lain. Selain itu, keberlangsungan usaha ini bisa untuk jangka panjang jika didukung dengan ketersediaan bahan baku tepung singkong. Menghadapi persaingan dengan usaha sejenis, Sigit bermodalkan menjaga kualitas produknya.

“Kalaupun ada orang lain yang mengikuti usaha pembuatan Brownies Singkong, saya yakin masih bisa bertahan karena produk saya berkualitas”, katanya. Ke depannya, Sigit memiliki rencana untuk membuat brownies berbahan talas dan ubi. Ia juga berencana untuk menjadikan outlet-nya one stop service dengan adanya outlet, cafe dan dapur dalam satu tempat yang sama. “Terutama dapurnya yang open kitchen,” lanjut pria berusia 28 tahun ini. []

Email: sigit@mrbrownco.com



Editor : Fuad R

  

KOMENTAR

  • wisnu

    hallo pa sigit bs sy magang belajar masak kuenya hub sy 081315722725


KOMENTAR ANDA

Mohon memasukkan nama, email dan komentar anda apabila ingin memberikan komentar. Kami tidak bertanggung jawab atas segala isi dari komentar yang anda kirimkan.







BERITA Sorot
BERITA Profil Usaha
BERITA Kisah Sukses
BERITA Tips
BERITA Konsultasi
Kontak KamiTentang KamiLowongan Pedoman Media Siber
Copyright © 2014 www.pesatnews.com