Ekonomi Nasional

Senin, 05-03-2012 08:50

BP Migas: Pemborosan BBM Indonesia Lebih Dari Arab Saudi



Kilang minyak

Tambang minyak

TERKAIT
SEMARANG, PESATNEWS- Harga bensin akan naik pada awal bulan depan. Kenaikkan ini bisa jadi dipicu oleh turunnya produksi minyak dan berkurangnya cadangan minyak karena makin banyak 'disedot' oleh pihak asing.

BP Migas mengungkapkan, turunnya produksi minyak Indonesia karena tingkat pengurasan cadangan minyak yang sangat tinggi yaitu delapan kali laju pengurasan bila dibanding negara-negara penghasil minyak utama dunia seperti Arab Saudi dan Libya.

Hal ini dijelaskan Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas BP Migas Gde Pradnyana, dalam pertemuan Perhimpunan Mahasiswa Geologi se-Indonesia (Perhimagi) di Universitas Diponegoro, Semarang, akhir pekan ini.

Gde mengatakan, Indonesia yang memiliki cadangan hanya sekitar 4 miliar barel, memproduksi minyak rata-rata 1 juta barel per hari.
"Artinya, reserve to production ratio negara kita hanyalah 4 persen. Angka ini jauh dibawah Arab Saudi dan Libya. Dengan cadangan minyak mencapai 265 miliar barel, Arab Saudi hanya memproduksi minyak rata-rata 8 juta barel per hari atau tingkat reserve to production ratio-nya mencapai 35 persen," paparnya.

Sementara Libya, yang memiliki cadangan minyak 46 miliar barel dan tingkat produksi sebesar 1,5 juta barel per hari, memiliki reserve to production ratio sebesar 30%.

"Selama ini kita menguras cadangan minyak kita kurang lebih 8 kali lebih cepat dari Arab Saudi dan Libya. Dengan kata lain cadangan minyak kita 8 kali lebih cepat habis dari dua negara tersebut. Laju pengurasan minyak kita sudah tergolong sangat tinggi jika dibandingkan negara penghasil minyak lain," ujar Gde.

Penemuan cadangan minyak yang berukuran cukup besar di Indonesia umumnya terjadi di Indonesia barat. Misalnya lapangan Minas, Duri, dan terakhir Cepu. Pengurasan cadangan Minas sudah dilakukan sejak tahun 1950-an dan mencapai puncaknya tahun 1975-1976, dengan tingkat produksi di kisaran 250 ribu barel per hari dan menjadi penyumbang terbesar terhadap produksi nasional 1,5 juta barel per hari.

Dia menambahkan dengan kebutuhan atau konsumsi BBM nasional yang saat ini sudah menembus 1,2 juta barel per hari. Sedangkan kemampuan kilang domestik hanya 700 ribu barel per hari, maka sisa kebutuhan BBM masih harus diimpor.

"Ini tidak bisa dihindari, seandainya pun produksi minyak mentah kita kembali ke 1,6 juta barel per hari maka impor bbm tetap tidak bisa dihindari," ujarnya.[rvn/cuk]





Editor : -

  

KOMENTAR



KOMENTAR ANDA

Mohon memasukkan nama, email dan komentar anda apabila ingin memberikan komentar. Kami tidak bertanggung jawab atas segala isi dari komentar yang anda kirimkan.







BERITA Pasar Modal
BERITA Ekonomi Nasional
BERITA Seputar Bisnis
Kontak KamiTentang KamiLowongan Pedoman Media Siber
Copyright © 2014 www.pesatnews.com